Tiganabi lainnya adalah Hud Shaleh dan Muhammad. Hal ini disebabkan karena Firaun pernah. Mertua Nabi Musa adalah orang tua di Madyan dan ia bukanlah Nabi Syuaib dan pendapat ini yang dinilai kuat oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan pertimbangan surat Hud. Musa di Masa Dewasa. NabiMusa Alaihissalam adalah putra dari adalah nabi yang ke-14 dari jumlah nabi yang wajib kita ketahui. dilahirkan di Mesir pada masa pemerintahan Fir'aun. bernama Imran bin Qahats. bernama Siti Asiah (yang merupakan istri Fir'aun). dihanyutkan oleh ibu kandungnya (Yukabad) ke sungai Nil. yang mendampingi Nabi Musa As. dalam berdakwah Tidakbanyak yang tahu tentang keluarga Nabi Musa secara detil. Muncul anggapan bahwa mertua Nabi Musa adalah adalah Nabi Syuaib alaihissalam. Video Poster Dakwah kali ini akan mengupas secara tuntas apakah anggapan tersebut benar atau tidak melalui sejarah Nabi Musa dan kisah Nabi Syuaib alaihissalam yang merupakan satu dari 4 nabi dari Arab. Fast Money. JAKARTA- Berikut ini merupakan kisah yang diriwayatkan dari Ka'ab al-Ahbar. Suatu kali, dia menjumpai seorang pendeta Yahudi keluar rumah dalam keadaan menangis. “Mengapa engkau menangis?” tanya Ka'ab kepadanya. Awalnya, pendeta itu enggan mengungkapkan alasannya berurai air mata. Namun, setelah Ka'ab berupaya meyakinkan lelaki itu, sang ahli agama Yahudi tersebut menjelaskan keadaan dirinya. Pendeta itu ternyata ingat suatu kisah yang dialami Nabi Musa AS tatkala sedang membaca Taurat. Pemimpin Bani Israil itu kemudian menyampaikan permintaannya kepada Allah SWT, “Ya Tuhanku, aku mendapatkan dalam alwaah, terdapat suatu umat yang bisa memberikan syafaat dan syafaat mereka akan diterima. Ku mohon jadikanlah mereka itu umatku.” “Mereka adalah umat Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam,” jawab Allah SWT. “Wahai Tuhanku, aku juga mendapatkan dalam alwaah, terdapat umat yang mereka dapat menebus dosa dengan cukup melaksanakan sholat lima waktu. Kumohon, jadikanlah mereka itu umatku,” Nabi Musa AS bermohon. “Mereka adalah umat Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam,” jawab Allah Ta'ala. “Wahai Tuhanku, aku juga mendapatkan dalam alwaah, ada umat yang akan membasmi kesesatan, sampai-sampai mereka akan membunuh Dajjal, si yang bermata satu. Jadikanlah mereka umatku,” pinta Nabi Musa AS. “Mereka adalah umat Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam,” jawab Allah kemudian. Demikianlah. Nabi Musa AS terus-menerus memohon dan memin ta. Berturut-turut disebutkannya tentang sifat suatu umat yang gemar bersuci dengan air dan tanah; umat yang boleh menerima harta rampasan perang. Padahal, dalam syariat Nabi Musa, harta ghanimah mesti dikumpulkan untuk kemudian turun api dari langit untuk membakarnya. Begitu pula, Nabi Musa terkesan lantaran Taurat mengabarkan adanya umat yang mengalami pelipatgandaan pahala. Taurat menjelaskan secara terperinci. Bila menjadi bagian dari umat itu, seseorang yang baru berniat mengerjakan kebaikan belum sampai melaksanakannya maka niatnya itu akan dicatat malaikat sebagai satu pahala kebaikan. Bila niat baik itu dilaksanakan, maka pahala bagi orang itu menjadi 10 hingga 700 kali lipat atau bahkan lebih. Kalau orang tadi berniat kejahatan, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika niat jahat itu dilakukan, maka malaikat mencatat untuknya hanya satu kejahatan. Maka, Nabi Musa AS kembali memohon kepada Rabbnya. “Jadikanlah mereka yang demikian itu umatku,” kata beliau. Akan tetapi, jawaban yang datang kepadanya tetap sama yaitu yang memperoleh keistimewaan itu adalah umat Nabi Muhammad SAW. Nabi Musa AS kembali mendapati informasi dari Taurat. Betapa istimewanya umat Rasulullah SAW. Misalnya, sebanyak 70 ribu orang di antara mereka akan masuk surga tanpa melalui hisab. Baca juga Dulu Anggap Islam Agama Alien, Ini yang Yakinkan Mualaf Chris Skellorn Malah Bersyahadat Kemudian, mereka seluruhnya disebut Allah SWT sebagai sebaik-baik umat karena menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran amr ma'ruf nahi munkar. Padahal, umat Nabi Muhammad SAW muncul paling akhir, yakni menjelang Hari Kiamat. Bagaimanapun, mereka kelak di akhirat justru masuk surga paling awal dibandingkan umat-umat lain yang beriman kepada Allah SWT. Mereka juga dimampukan untuk menghafal Kitab-Nya di dalam dada serta gemar membacanya. Nabi Musa AS kemudian berkata, “Ya Allah, ingin sekali aku menjadi umatnya Muhammad SAW.” Maka Allah berfirman kepadanya, “Wahai Musa, Aku telah memilih engkau dan segenap manusia untuk menerima risalah-Ku dan firman- Ku. Maka, terimalah apa yang telah Aku beri kepadamu. Jadikanlah dirimu termasuk orang-orang yang bersyukur.” sumber Harian Republika Ilustrasi Nabi Musa AS saat membelah lautan. Foto iStockNabi Musa AS merupakan salah satu utusan Allah SWT yang hidup di Mesir. Ayah Nabi Musa bernama Imran bin Qaits, dan ibunya bernama Yukabad. Nabi Musa hidup pada zaman kekejaman dan kezaliman penguasa Mesir, Raja Musa mendapat mukjizat dari Allah SWT yaitu kemampuan mengubah tongkat menjadi ular hingga membelah lautan. Nabi Musa termasuk Nabi dan Rasul Ulul Azmi, sebab memiliki kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi zaman itu, setiap kelahiran bayi laki-laki harus dibunuh. Itu merupakan peraturan kejam yang ditetapkan Firaun. Firaun takut anak laki-laki akan tumbuh menjadi pemuda yang akan melawan dan menggoncang karenanya, setiap putra Bani Israil tidak diizinkan melihat dunia meskipun sekejap mata. Nasib nahas itu pun menimpa Nabi dengan kisah Nabi Musa? Berikut Kelahiran Nabi MusaIlustrasi Ibunda Nabi Musa yang menghanyutkan anaknya ke Sungai Nil. Foto iStockAlih-alih bahagia melahirkan seorang anak, ibunda Nabi Musa dirundung kecemasan yang teramat sangat, karena yang dilahirkannya merupakan bayi tiga bulan lamanya, Yukabad dan Imran bin Qaits menyembunyikan putra mereka. Setiap hari mereka dirundung kekhawatiran, takut kalau-kalau soal kelahiran Nabi Musa suatu hari kemudian, ibunda Nabi Musa berpikir untuk menyelamatkan anaknya. Sebab, lama kelamaan keberadaan Nabi Musa pasti akan diketahui oleh petugas kerajaan. Dilanda kebingungan yang teramat sangat, Yukabad pun kemudian mendapat ilham dari Allah SWT untuk menghanyutkan Nabi Musa ke Sungai Nil.“Susuilah dia. Dan, apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai Nil. Dan, janganlah kamu khawatir dan janganlah pula bersedih hati karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari para rasul,” begitu perintah Allah SWT sebagaimana yang tercantum dalam Alquran Surat Al-Qashash Ayat pun kemudian membuat sebuah peti tertutup dan memasukkan Nabi Musa ke dalamnya. Sambil menangis, ia menghanyutkan keranjang berisi peti tersebut di aliran Sungai begitu diliputi kesedihan dan kekhawatiran. Namun, sang ibunda memasrahkan Nabi Musa kepada Allah SWT. Cukup Allah SWT yang akan menyelamatkan buah upaya, sang ibunda meminta putrinya Miryam untuk mengikuti kemana peti yang ia hanyutkan itu terbawa aliran sungai. “Ikutilah dia,” kata Yukabad kepada Miryam dengan kesenduan di perempuan Nabi Musa tersebut pun diam-diam mengikuti aliran sungai. Atas kehendak Allah SWT, peti Nabi Musa menuju sungai di dekat istana. Saat itu, istri Firaun, Asiyah, tengah berada di kebun istana dekat sungai bersama para pelayannya. Ketika melihat peti yang hanyut, ia pun meminta pelayannya untuk mengambil peti tersebut. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat bayi yang menggemaskan berada di dalam melihat Nabi Musa, Asiyah langsung jatuh hati. Allah SWT memang menurunkan rasa sayang pada setiap orang yang melihat si kecil Musa. Namun, Firaun telah melarang setiap bayi laki-laki hidup. Oleh karenanya, Asiyah pun membujuk suaminya untuk mengadopsi Nabi Musa sebagai anak setelah berhasil membujuk suaminya, Nabi Musa diangkat menjadi putra angkat kedua dari Firaun dan istrinya. Dengan demikian, selamatlah Nabi Musa. Miryam yang melihat adiknya dapat selamat pun merasa lega. Kendati begitu, Yukabad terus dirundung kesedihan dan kesepian karena kehilangan bayi mungilnya. Namun, Allah Mahapengasih dan Penyayang. Nabi Musa kembali ke dekapan ibunda untuk melihat adiknya dirawat istri Firaun, Miryam segera menawarkan bantuan untuk mencarikan wanita yang bisa menyusui bayi tersebut. Tentunya, Asiyah membutuhkan wanita yang dapat menyusui anak angkatnya tersebut. “Maukah kamu aku tunjukkan ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” tawar bait yang ditawarkan Miryam tersebut tidak lain merupakan ibunya Musa, Yukabad. Asiyah pun menerima tawaran tersebut dan membuat Yukabad dapat kembali memeluk putranya Hidup Nabi MusaIlustrasi Nabi Musa membelah lautan. Foto iStockNabi Musa tumbuh menjadi pria yang sangat baik. Selama bertahun-tahun, ia beserta pengikutnya bersabar dalam menghadapi kekejaman Firaun. Pada puncaknya, Firaun mengakui dirinya sebagai Tuhan. Atas seizin Allah SWT, Nabi Musa dan pengikutnya pergi dari Mesir untuk menuju Syam. Mendengar kabar kepergian Musa, Firaun murka dan bersama bala tentaranya mengejar Nabi Firaun dan tentaranya hampir menyusul rombongan Nabi Musa, perjalanan mereka terhambat lautan yang luas. Turunlah wahyu Allah SWT kepada Nabi Musa yang berbunyi sebagai berikut,“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu, maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” Alquran Surat Asy-Syu’ara Ayat 63Lautan pun dengan sekejap terbelah. Nabi Musa dan rombongannya bergegas melintasi lautan disusul oleh Firaun beserta bala tentaranya. Nabi Musa dan pengikutnya berhasil melewati lautan. Lautan kemudian kembali seperti semula, Firaun dan bala tentaranya binasa karena tenggelam di dalam lautan tersebut. Kisah Nabi Musa Alaihissalam 11 Wafatnya Musa Alaihissalam Oleh DR. Firanda Andirja, Lc. MA. Di masa 40 tahun ini, wafatlah Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Harun AS[1]. Kemudian, kenabian berpindah kepada Yusya’ bin Nun[2], yang kemudian memimpin Bani Israil menaklukkan Palestina. Beliau adalah pemuda yang menemani Nabi Musa Alaihissalam dalam pencarian Nabi Khadhir, yang Allah ﷻ sebutkan kisahnya dalam surat Al-Kahfi[3]. وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya “Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.” QS. Al-Kahfi 60 Yusya’ bin Nun inilah yang disebutkan oleh Rasulullahﷺ dalam hadis, غَزَا نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ، فَقَالَ لِقَوْمِهِ لاَ يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا؟ وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلاَ أَحَدٌ بَنَى بُيُوتًا وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا، وَلاَ أَحَدٌ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلاَدَهَا، فَغَزَا فَدَنَا مِنَ القَرْيَةِ صَلاَةَ العَصْرِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ، فَقَالَ لِلشَّمْسِ إِنَّكِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ “Salah seorang nabi pernah berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya Janganlah ikut serta dalam peperanganku ini seseorang lelaki yang baru saja menikah dan ia hendak berhubungan dengan istrinya itu, tidak pula seorang yang tengah membangun rumah dan belum menyelesaikan atapnya, dan tidak pula seseorang yang membeli kambing atau onta yang sedang bunting tua sedang ia menantikan kelahiran anak-anak ternaknya itu.’ Kemudian sang nabi pun berangkat perang. Ketika ia telah mendekati sebuah desa, ternyata waktu shalat Ashar telah tiba, atau sekitar waktu tersebut. Ia pun lantas berkata kepada matahari Sesungguhnya engkau dan saya adalah hamba Allah.’ Kemudian ia pun berdoa, Ya Allah! Tahanlah pergerakan matahari itu di atas kami!’ Matahari itu pun tertahan tertunda dari waktu terbenamnya, hingga Allah ﷻ memberikan kemenangan kepada sang nabi tersebut.” [4] Peperangan yang dimaksud adalah penaklukkan Palestina, dan tidak dijelaskan secara detail bagaimana penaklukkan Palestina tersebut terjadi[5]. Allah ﷻ pun memenangkan Nabi Yusya’ AS, dan Palestina pun takluk dan menyerah kepada Bani Israil. Ketika hendak memasuki Palestina, Allah ﷻ memerintahkan mereka untuk melakukan gerakan dan ucapan syukur, sebagaimana terhikayatkan dalam firman-Nya وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ “Dan ingatlah, ketika Kami berfirman Masuklah kamu ke negeri ini Baitul Maqdis, dan makanlah dari hasil buminya yang banyak lagi enak di mana pun yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah Bebaskanlah kami dari dosa’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah pemberian Kami kepada orang-orang yang berbuat baik.’” QS. Al-Baqarah 58 Yang dimaksud dengan sujud adalah ruku’[6], yaitu agar mereka memasuki Palestina dengan penuh ketundukan dan rasa syukur kepada Allahﷻ sembari mengucapkan permintaan ampunan kepadaNya[7] atas kemaksiatan yang telah mereka lakukan sehingga menyebabkan mereka dihukum tersesat selama 40 tahun. Namun, bukannya memasuk Palestina sesuai perintah Allah ﷻ, yaitu dengan ketundukan, rasa syukur, dan rasa bersalah akan dosa-dosa yang telah diperbuat, ternyata mereka malah melakukan hal yang sebaliknya, yaitu dengan memasuki Palestina sembari mendorong-dorong pantat mereka sebagai bentuk kesombongan dan pamer akan kekuatan diri, serta memelesetkan ucapan hiththah yang mengandung makna istighfar kepada Allah ﷻ dengan kata hinthah, yang berarti gandum[8]. Perhatikan bagaimana lancangnya Bani Israil mengolok-olok perintah Allahﷻ kepada mereka. Allah ﷻ berfirman فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ “Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan mengerjakan yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, lantaran mereka kefasikan yang mereka perbuat.” QS. Al-Baqarah 59 Bani Israil adalah kaum yang sangat tidak beradab kepada Allah ﷻ dan para nabi dan rasul, keras kepala, serta gemar mencari-cari celah untuk menghindari perintah Allah ﷻ atau melanggar larangan-Nya. Lihatlah Taurat yang telah mereka ubah, anda akan dapati berbagai pelecehan yang mereka lakukan dalam menyifati Allahﷻ serta para nabi dan rasul, sebagaimana sebagian kecilnya telah kita sebutkan di akhir-akhir pembahasan setiap nabi. Allah ﷻ berfirman لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعۡتَدُونَ “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” QS. Al-Maidah 78 Dikisahkan pula bahwa ketika akan meninggal dunia, Nabi Musa Alaihissalam didatangi oleh Malaikat Maut yang menjelma sebagai manusia. Kisahnya disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya “Malaikat maut datang menemui Musa Alaihissalam, lalu ia berkata kepadanya Penuhilah panggilan Rabbmu!’ Lalu Musa pun menampar mata Malaikat Maut hingga ia keluar dari tempatnya. Malaikat Maut pun kembali menemui Allah ﷻ seraya berkat Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba-Mu yang tidak menginginkan kematian, dan sungguh ia telah mencukil mataku.’ Lalu Allah pun mengembalikan mata Malaikat Maut dan berfirman Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan kepadanya Apakah kehidupan yang engkau inginkan? Jika engkau menginginkan kehidupan maka letakkanlah tanganmu di atas bulu sapi, maka setiap bulu yang tertutup oleh tanganmu, dengannya engkau akan mendapatkan tambahan satu tahun.’ Malaikat Maut pun kembali dan menyampaikan tawaran tersebut kepada Nabi Musa Alaihissalam. Mendengar itu, Musa pun berkata; Lalu apa setelah itu?’ Malaikat Maut menjawab Kematian.’ Musa berkata lagi Kalau begitu, segerakan sajalah!’ Musa Alaihissalam pun berdoa Ya Allah, dekatkanlah kuburku dengan tanah suci sejauh lemparan batu.’ Jika aku ada di sana sungguh akan aku tunjukkan lokasi tersebut kepada kalian, yaitu di sisi jalan dekat pasir merah.”[9] Nabi Musa Alaihissalam tidaklah mengetahui bahwa manusia tersebut adalah Malaikat Maut. Dan mata Malaikat Maut dapat terlepas, karena ketika itu ia sedang menjelma menjadi manusia, sehingga sebagian sifat fisik manusia ada padanya.[10] Demikianlah kisah Nabi Musa Alaihissalam bersama kaum yang amat ingkar dan keras kepala. Allah ﷻ mengisahkan kisah beliau Alaihissalam bersama kaumnya dalam banyak tempat dalam Al-Qur’an, agar umat Muhammad ﷺ dapat mengambil pelajaran dari mereka. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita sebagai umat yang beradab kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ. Wallaahu A’lam. Footnote _________ [1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/80 [2] Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah 1/359 [3] Lihat surat Al-Kahfi ayat 60. [4] HR. Bukhori no. 3124 dan Muslim no. 1747 [5] Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah 1/359 [6] Lihat Tafsir Ath-Thabari 2/104 [7] Lihat Tafsir Ath-Thabari 2/106 [8] Lihat Tafsir Ath-Thabari 2/115 [9] HR. Muslim no. 2372 [10] Lihat Mirqootul Mafaatiih Syarhu Misykaatul Mashoobiih 9/3648

mertua nabi musa alaihissalam adalah nabi